Open top menu
Sunday, June 1, 2008

Cara Menemukan Kesadaran Sejati
indopost, 1 juni 2008, resensi buku




Judul Buku : The Heart of 7 Awareness Penulis : Nanang Qosim YusufPenerbit : Hikmah, JakartaCetakan : I, Maret 2008Tebal : xxxiii + 472 HalamanSuatu hari di surga, Tuhan sedang bingung dan memikirkan bagaimana caranya agar tidak diganggu manusia yang selalu banyak permintaan dan tuntutan. Di tengah kebingungan itu, Tuhan memanggil empat malaikat terbaiknya dan bertanya bagaimana caranya agar diri-Nya tidak ditemukan oleh manusia. Malaikat pertama berkata, "Tuhanku, kenapa Engkau tidak pergi saja ke sebuah gunung yang tinggi di mana orang-orang belum tahu bahkan tidak berani ke sana, di sana Tuhan bisa santai dan tidak diganggu oleh mereka, Himalaya misalnya Tuhanku." Tuhan menjawab, "Itu dulu, sekarang mereka telah mampu mendaki gunung-gunung tertinggi di mana pun termasuk Himalaya, tidak mungkin! Manusia adalah makhluk pemberani, pasti dia tahu juga."Tuhan kemudian meminta pendapat pada malaikat kedua dan jawaban malaikat kedua, "Kenapa Tuhan tidak coba pergi ke dasar lautan, pasti manusia tidak bisa masuk ke dasar lautan karena meraka kan makhluk daratan."Tuhan pun berkata, "Itu dulu, manusia sekarang sangat pintar. Dia ciptakan alat untuk menyelam dan mereka pasti temukan di mana Aku berada." Tuhan berjalan mondar-mandir sambil terlihat bingung, dimintalah pendapat malaikat ketiga, "Bagaimana menurutmu malaikat ketiga?" Malaikat ketiga pun menjawab, "Ah...kenapa Tuhan tidak coba pergi ke planet antariksa, di mana manusia jelas-jelas tidak bisa sampai ke sana." Tuhan menjawab, "Itu dulu wahai para malaikatku, sekarang mereka sangat cerdas. Mereka ciptakan pesawat yang bisa menembus bumi dan menuju planet-planet antariksa, mereka hebat, mereka pasti temukan Aku."Tuhan pun makin terlihat lebih bingung. Pada saat kondisi mengalami jalan buntu tersebut, malaikat terakhr berkata, "Tuhanku, ada satu tempat di mana tempat itu dekat sekali dengan manusia, bukan di gunung, bukan di dasar lautan, dan bukan juga di planet, tetapi manusia tidak tahu tempatnya," katanya. Tuhan penasaran dan berkata, "Di mana dia wahai malaikatku?" Malaikat menjawab dengan tenang, "Di hati manusia sendiri, Tuhanku." Sejak saat itu, konon Tuhan bersemayam di hati setiap hamba-Nya. Cerita klasik di atas selalu menjadi rujukan spiritualisme kebahagiaan. Karena kebahagiaan, kesuksesan, kemakmuran bukan muncul dari orang lain, tetapi dari hati terdalam diri sendiri. Hati bagaikan tanah yang subur. Kalau tanah itu tandus, tentu tidak bisa ditanami lagi sehingga yang ada hanya kesal, kecewa, serta kesedihan. Namun, apabila hati itu tanah yang subur, pohon-pohon kesuksesan, kemenangan, kemakmuran, dan kebahagiaan selalu muncul di sana-sini tak pernah berhenti. Dengan kata lain, kebahagiaan juga tidak bisa kita cari di lautan, bukan di bukit gunung yang tinggi, tidak juga di planet lain. Tetapi kebahagiaan ada dalam hati terdalam (lubb) masing-masing yang sering dilupakan. Buku kedua karya trainer muda yang dikenal dengan Sang Penutur Kesadaran Indonesia ini sungguh merupakan buku penuntun untuk bisa meraih puncak kebahagiaan dengan terlebih dahulu meraih puncak keadaraan sejati. Berbeda dari buku pertamanya, The 7 Awareness (Grasindo, 2006), buku ini lebih tebal dan lebih menekankan pada metodologi, baik bahasa maupun pesan-pesan bijak. Buku ini juga mengajak kita untuk berlatih menapaki tujuh tangga yang mesti dilewati para pencari kesadaran dan kebahagiaan sejati. Tujuh tangga tersebut yaitu: (1) the art of esoteric thingking; 2) the art of esoteric silent; (3) the art of esoteric success; (4) the art of esoteric soul; (5) the art of esoteric wisdom; (6) the art of esoteric vision; (7) surrender. Bagi Anda yang benar-benar ingin belajar tentang bagaimana meraih kesadaran sejati untuk mencapai kebahagiaan optimum, maka Anda akan dibimbing oleh buku ini untuk menemukan cahaya Ilahi. Hadirnya buku ini semakin menambah keyakinan bahwa untuk bisa meraih kondisi "good" menjadi "great" dibutuhkan prasyarat kesadaran sejati yang lahir dari pemahaman bahwa Tuhan itu ada dalam hati kita masing-masing. Tuhan tidak ada di rumah, di pekerjaan, di kantor, di partai politik, di jabatan, maupun di dalam materi (uang). Sebab, yang terakhir ini hanya menawarkan kebahagiaan semu (psudo happiness) bukan kebahagiaan sejati (truly happiness). Dalam konteks kehidupan yang serbasulit seperti saat ini, di mana kelangkaan pangan dan kebutuhan hidup makin melilit, buku ini terasa sungguh sangat ideal dan mengangkasa. Selain itu, buku ini juga memberikan inspirasi hidup (life inspiration) agar dari hari ke hari sesulit apa pun hidup ini, hendaknya tetap merasa dekat dengan Tuhan. Inilah surga kehidupan bagi siapa saja yang ingin merasakan kebahagiaan sejati.Perasaan bahwa Tuhan selalu hadir dalam hati terdalam kita akan memompa semangat untuk tetap sabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan dan kesulitan hidup. Dengan begitu, yang ada adalah spirit optimisme untuk tetap bertahan hidup dalam kesulitan. Sebab, Tuhan berjanji pada hamba-Nya, "Pada tiap kesulitan selalu ada kemudahan." Dengan begitu, diharapkan tercapai satu perubahan yang mendasar atas sikap kita terhadap kehidupan yang terjadi. Menyalahkan keadaan hanyalah akan membuat kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Karena sejatinya, ketika manusia sudah menemukan dan merasakan kesadaran sejati, maka ia akan semakin bijaksana dan tahan uji (persistence) terhadap segala macam kondisi yang dialami. Inilah tangga untuk mencapai kebahagiaan sejati. Semoga buku ini menjadi bacaan penyejuk di tengah situasi ekonomi yang makin sulit saat ini. (*) *) Rohmah Maulidia MA Pengajar di STAIN Ponorogo
Tagged
Different Themes
Written by Naqoy

Founder And Master Trainer The 7 Awareness

2 comments

  1. M. Abduh says:

    Luar biasa. Saya kagum dengan Anda. Masih muda tapi sudah menghasilkan karya luar biasa. Salam kenal.

    Wassalam

  2. thanks, atas komentarnya, semoga Allah senantiasa membaimbing kita agar menjadi manusia diatas rata-rata selalu.


    Love Hamesya


    Naqoy