Open top menu
Saturday, June 21, 2008


Belakangan ini bermunculan buku-buku berparadigma baru mengenai kepemimpinan. Di antaranya yang paling terkenal adalah buku karya Stephen R Covey, "The 8th Habit", yang menegaskan bahwa kepemimpinan sekarang ini tidak cukup hanya "menjadi efektif", karena menjadi efektif sebagai pemimpin adalah sebuah keharusan dan bayaran di zaman penuh kompetisi global.

Buku Nanang Qosim Yusuf ini merupakan buku jenis kepemimpinan baru
dengan basis spiritualitas universal, sejalan dengan basis inner
voice- nya jenis buku-buku kepemimpinan. Nizami dalam buku syair
Sufinya Haft Paikar (Tujuh Jelita) mengatakan, "Jika dengan betul kau
baca dirimu sebagai naskah, kau akan kekal. Ruh itu kebenaran, yang
lain dusta." Begitulah buku jenis ini. Buku ini dalah buku yang
berdasarkan kebenaran universal, yang mengembangkan kepemimpinan dari
panggilan "suara paling dalam".

Orang-orang seperti Mahatma Gandhi, Ibu Theresa, dan Nelson Mandela
adalah contoh pemimpin dalam zaman kita yang memimpin dengan inner
voice. Istilah buku ini memimpin dengan cinta. Buku yang dalam tiga
bulan ini menjadi pembicaraan luas banyak bicara mengenai kepemimpinan
berdasarkan cinta. Kalau spiritualitas, membicarakan mengenai cara-
cara bagaimana jiwa manusia--dengan jalan cintanya itu--menyempurnakan
tali hubungannya dengan Tuhan, dan peluang-peluang yang membolehkan
jiwa melakukan pendakian ke alam ketuhanan. Dalam pendakian semacam
ini, kepemimpinan mengembangkan gagasan bagaimana manusia yang adalah
pemimpin itu menggapai awareness, kesadaran akan panggilan
tertingginya sebagai pemimpin. Pendakian ini dilakukan melalui "tangga-
tangga" perjalanan spiritualitas kepemimpinan.

Buku ini menjelaskan adanya tujuh tangga kesadaran dalam kepemimpinan.
Teori Nanang mengenai tujuh tangga kesadaran kepemimpinan ini cocok
sekali dengan teori perenial dari Fariduddin Attar, Musyawarah Burung
(Manthiq al-Thayr), yang menyampaikan kisah perjalanan burung-burung
mencari raja mereka, Simurg, secara menarik dan alegoris--sebuah
ekspresi sastra yang memerlukan ketajaman intuitif untuk menangkap
maknanya.

Attar lewat ekspresi Musyawarah Burung ini merumuskan ketujuh
peringkat dan keadaan rohani tersebut sebagai: pertama, lembah
pencarian (thalâb), sejalan dengan yang oleh Nanang sebut "Awareness
of Thinking--Born to be King". Kedua, lembah cinta [Ilahi] (isyq),
sejalan dengan "Awareness of Silence--Jika Kau Diam Tuhan pun
Berbicara". Ketiga, lembah pemahaman atau pengenalan Tuhan (ma`rifah),
sejalan dengan "Awareness of Succsess--The Power of Love". Keempat,
lembah kepuasan rohani (istighrâq), sejalan dengan "Awareness of Soul--
The Power of Soul: Kekuatan dari Sang Jiwa". Kelima, lembah kesatuan
(tawhîd), sejalan dengan "Awareness of Wisdom--Air Kehidupan". Keenam,
lembah ketakjuban (hayrah), sejalan dengan "Awareness of Vision--Tuhan
Pun Bervisi". Dan, Ketujuh, lembah kefakiran dan kefanaan (faqr dan
fanâ',) sejalan dengan yang disebut Nanang "Awareness of Surrender--The
Power of Zero, Kekuatan dari Keikhlasan".

Di sini Nanang Qosim Yusuf meyakinkan kita bahwa dalam mencapai "Yang
Satu" itu, tingkat terakhir, "The Awareness of Surrender," seseorang
tidak dapat melakukannya dengan usaha hanya secara intelektual semata.

Mendekati Tuhan secara intelektual tidak akan sampai pada makna
hakiki. Makna hakiki juga tidak bisa dicapai hanya dengan perasaan
kerinduan. Sebab, pengalaman Yang Ilahi ini harus dicapai dengan
melibatkan seluruh proses rasionalitas dan kerohanian, yang mencakup
penciptaan kembali pribadi-yang-semula (fitrah, kodrat dasar insani)
secara lengkap--yang oleh Nanang disebut "Manusia di Atas Rata- rata"--
yang akan menghasilkan pembebasan yang berhubungan dengan tercapainya
bentuk-bentuk kesadaran baru, kesadaran transendental, yaitu penyatuan
mistis dalam yang disebut buku ini "Pengalaman Zero".

Dalam ekspresi mistis (istilah buku ini, "diawali dan diakhiri oleh
Zero"), kehendak disatukan dengan perasaan mendalam, hasrat yang
berkobar untuk mentransendensikan alam indra (empiris) supaya "diri"
bersatu dengan cinta menuju Yang Satu, Yang Ilahi; keberadaan yang
secara intuitif diterima oleh jiwa secara transenden (kosmis). Buku
jenis ini biasanya diperolehnya lewat pengalaman hati, yaitu sejenis
intuisi batin atau wawasan yang tidak pernah salah. Ahli mistik
mungkin berkata--mengikuti bahasa mistis St Bernard-- "Rahasiaku untuk
diriku sendiri". Namun, sebagai seniman, atau saudara Nanang sebagai
trainer kepemimpinan, ia tak dapat berbuat demikian. Kepadanya telah
diamanatkan kewajiban mengekspresikan segala yang telah dia peroleh.
Dia terikat untuk menyatakan cintanya. Di dalam memuja keindahan Yang
Maha Sempurna, keimanan--bagi penyair-- harus diimbangi dengan karya
yang mampu menampung kedalaman pengalaman.

Dengan menggunakan selubung dan simbol, dia harus menafsir
pengalamannya sendiri kepada orang lain--menjadi segi ekspresi sebuah
karya, seperti buku ini--sehingga buku seperti ini pun menjadi
penghubung antara alam dunia ini dan alam hakikat.

Buku ini adalah hasil perenungan dan pengalaman makrifat (kedekatan
dengan yang Ilahi), misalnya dalam memikirkan dan merenungkan wajah
Kekasih Yang Maha Indah, yaitu Tuhan. Apabila Kekasih telah hadir dan
menyingkap keindahan wajah-Nya, maka Taman Mawar Ilahi menjadi simbol
seorang penyair yang mengalami makrifat itu dalam mengekspresikan
kemabukan dan penyatuan mistik dengan Yang Ilahi.

Buku ini, seperti puisi para sufi yang berfungsi sebagai sarana
ekspresi bagi kemabukan dan penyatuan mistik, dapat dipandang sebagai
proyeksi untuk mengingat dan merindukan kesatuan (bersatunya manusia)
dengan Kekasihnya (Tuhan).

Buku ini sangat penting karena mengajak kita ke jalan intuisi, jalan
yang disebut Nanang sebagai a voyage to eternity, sebuah jalan intuisi
dalam kepemimpinan. Jalan intuisi sekarang dianggap penting dalam
kepemimpinan karena pertama, intuisi merupakan jalan tempat berpindah
ke alam keabadian atau transenden. Kedua, buku-buku seperti ini, yang
indah dan mendalam secara maknawinya, pada dasarnya ditulis setelah
penulisnya melakukan penyucian diri, dengan meneguhkan terlebih dahulu
kehendaknya sehingga cermin penglihatan (rohani)nya (kepekaan
intuitifnya) menjadi terang. Ketiga, intuisi merupakan ekspresi dari
pengalaman akan Yang Ilahi (pengalaman makrifat). Keempat, Nanang
menyatakan bahwa keindahan wajah Tuhan (dalam penampakan metafisis-
teofaniknya) dapat disaksikan di "medan yang qadîm" (medan-abadi) yang
merujuk pada pengalaman primordial manusia yang tertanam dalam lubuk
hati terdalam (kefitrahan).

Maka, buku ini dapat menjadi tangga naik menuju diri sejati-- sebuah
tangga kearifan yang sangat diperlukan seorang pemimpin. Sebuah syair
menggambarkan sebuah kepemimpinan pelayanan. Buku Nanang ini berhasil
memadukan pencapaian apa yang disebut Stephen R Covey, keagungan
organisasi, keagungan kepemimpinan, dan keagungan pribadi. Pengalaman
Nanang sebagai seorang trainer muda yang berbakat telah menjadikan
buku ini berhasil mengolah ketiga hal tersebut. Karena keberhasilan
dan daya tarik buku ini, tidak heran kalau hanya dalam satu bulan
cetakan pertama buku ini telah habis diserap pasar.

Saya merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini, untuk meningkatkan
kapasitas kepemimpinan Anda, istilah Jim Collin dalam bukunya, Good To
Great, dari good menjadi great!

Budhy Munawar-Rachman Pengajar Religious Studies Universitas
Paramadina dan sebagai program officer Islam and Civil Society The
Asia Foundation
Tagged
Different Themes
Written by Naqoy

Founder And Master Trainer The 7 Awareness

0 comments