Open top menu
Friday, November 21, 2008


Tulisan ini saya tulis ketika malam ini saya sedang menatap kedua anak kembarku dan istri tercinta, tanpa terasa ada keharuan dan emosi yang sangat pada mereka, tiga bidadari dalam hidupku. Zaara dan Zyvaa sekarang sudah tumbuh cepat menjadi anak-anak yang cerdas dan aktif, sayang, masa-masa indah yang luar biasa, saya sendiri masih sering meninggalkanya, kesibukan memberikan training T7A membuat saya sering tanpa bersama, namun saya yakin suatu hari nanti kita bisa bersama selamanya, anak-anakku.
Seperti dalam tulisan buku saya " TIDAK ADA NAMANYA KEBETULAN", semua adalah anugrah dan rencananya yang agung dan indah. Pertemuan saya dengan Dewi sendiri bukan karena rencana saya namun benar-benar Allah mengaturnya dengan baik sekali. Selama kuliah bersama, ia adalah mahasisiwi yang aktif di kegiatan extra sementara saya selesai kuliah mengabiskan waktu di depan loket sepatu mesjid sampai sore bahkan malam hari. Saya juga adalah teman baiknya, yah sering mengantarkannya ketika mau ketemu dengan pacarnya dulu, sejak dulu memang saya mencintainya, namun Dewi sebaliknya menganggapku sebagai sahabat, selain ia tidak mencintai saya, sejujurnya saya memang belum pantas waktu itu menjadi pendampingnya. Kalau istilah agama saya, belum satu kufu, belum satu level.
Sejak ia menganggap saya sebagai sahabat, sejak itulah saya buktikan menjadi sahabat yang terbaik dalam hidupnya, perasaan saya, dengan sekuat hati saya simpan dan biarkan waktu yang menghancurkanya. Namanya sebenarnya bukan Dewi, namun Umroh, kata kedua orang tuanya, pada saat kedaunya berhaji, ibunya sedang hamil maka dinamakan UMROH. Saya masih ingat dulu, penghasilanku sebagai tukang penjaga sepatu di mesjid tidak mampu membayar biaya kuliah saya, padahal waktu itu saya masih ingat, persemester hanya 300.000 rupiah, namun saya hampir menyerah ketika harus membayar uang semester. Disaat saya sedang dalam masalah yang rumit, ia datang menawarkan solusi bantuan, maka saya lolos untuk naik kuliah semester, ironisnya saya berkali-kali dibantu olehnya, terutama dalam hal keuangan. Sejak itulah saya merubah memanggilnya bukan lagi Uum atau Umroh namun menjadi Dewi, yah Dewi Penolong saya waktu itu, ternyata sampai sekarang ini.
Moment berharga yang pernah ia berikan kepada saya tidak akan pernah terlupakan kapanpun, antara lain :
1. Ketika ibu saya datang dari kampung ingin mengobati kondok di lehernya, lalu saya ajak ibu ke Klinik UIN, saya mendadak menangis ketika selesai periksa bahwa apa yang sedang dialami oleh ibu adalah tumor dan itu harus dioperasi, peristiwa ini terjadi pada tahun 1998. Saya bergemetar mendengar dokter mengatakan hal tersebut, saya bingung dan panik, namun Allah mengirimkan Dewi menjadi jembatan berkah kembali, ia menjadi donatur paling luar biasa yang membuat ibu saya akhirnya sembuh dari penyakit tumornya.
2. Ketika Dewi akan menikah setelah tunangan dengan pacarnya, namun pada saat hari pernikahnya ia memilih memutuskan hubungan dengan pacarnya dan memilih saya, waktu itu tidak memiliki apapun kecuali perasaan ingin membahagiakanya selamanya, saya baru memahami bahwa itulah cinta sejati. Keputusanya menikah dengan saya seperti melawan air deras yang kuat, bahkan akhirnya sempat tidak dibanggakan oleh keluarganya. Salah satu alasan ia memilih saya adalah ia katakan disamping saya ia terasa bahagia dan yakin.
3. Ketika harus membeli 2000 buku pertama senilai 65 juta sebagai modal awal membangun training T7A, Dewi mau mengorbankan mobil avanza untuk dijual dan digunakan untuk membeli buku, yang kelak buku ini akan menjadi masterpiace training T7A.
4. Ketika saya mendengar bahwa Dewi mengandung anak kembar yang aktif dan cantik, saya masih ingat bagaimana ia melawan rasa sakit di perutnya, bahkan kakinya sering terlihat bengkak tandanya ia sangat sakit sekali.
5. Ketika saya melihat langsung bagaimana Dewi melahirkan kedua anak saya yang luar biasa, Zaara dan Zyvaa, adalah moment yang istimewa
6. Ketika membangun training T7A, lalu saya terbentur modal , maka Dewi memikirkan sebuah solusi dan berhasi menolong saya, dari hutang yang melilit.
7. Ketika orang melihat sisi buruk saya, dialah yang masih melihat sisi terang dari saya.
Di dalam menejemen RUMAH KESADARAN ia sekarang didukung tim menjadi lokomotif training t7a. Saya tahu ia tidak sempurna, namun saya tahu saya merasa sempurna jika ia bersama saya. Dewi adalah ruh dari training dan karir training The 7 Awareness. Semoga Dewi tetap menjadi jembatan berkah dari Allah buat kami semua, saya dan Zaara, Zyvaa. Love you Hamesya.
Tagged
Different Themes
Written by Naqoy

Founder And Master Trainer The 7 Awareness

0 comments