Open top menu
Saturday, January 24, 2009


Bagi saya, Nanang Qosim Yusuf (Naqoy) adalah sebuah keajaiban. Mengapa? Saya cukup akrab dengannya saat sama-sama menjadi mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah. Ia di Fakultas Tarbiyah, sedangkan saya di Fakultas Ushuluddin. Bahkan, kami pernah satu kost di Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati (KMSGD) di kamar paling pojok sebelah kanan. Saat itu ia belumlah tampak menonjol. Hanya saja, satu yang saya ingat tentang dia saat satu kost: ia gemar membeli buku tentang manajemen. Saat itu saya tidak menghiraukannya, karena saya sendiri lebih senang pada buku-buku berirama religius dan pemikiran. Mungkin inilah salah satu hal yang membentuk pola pikir dan kepribadiannya suatu hari nanti untuk menjadi seorang trainer, selain faktor-faktor lain. Tidak lama kemudian kami berpencar. Pada akhir perkuliahan saya, kami dipertemukan lagi di Kampung Utan, Ciputat. Saat itu ia membuka bisnis foto copy plus rental komputer di bawah lebel Mozaik Computer, sedang saya hanya membuka bisnis rental komputer saja. Tempat bisnis kami hanya dibatasi oleh dua rumah. Saat itu ia sudah menjadi sarjana dan dosen di Paramadina, sedangkan saya sedang mengerjakan skripsi berjudul “Strukturalisme Transendental: Tafsir Baru Atas Problematika Penafsiran Al-Qur’an (Studi Kritis Atas Pemikiran Kuntowijoyo)” yang tidak kelar-kelar. Saat itu saya terjebak oleh idealisme untuk membuat karya skripsi sebagus mungkin agar berpotensi dibukukan. Tetapi, saat itu Nanang memotivasi saya, “Selesaikan aja dulu skripsimu. Persoalan mau dibuat buku atau tidak itu persoalan nanti, bisa diperbaiki lagi setelah itu.” Saya tidak ingat persis perkataan Nanang saat itu. Tapi, kata-katanya saat itu telah mencerahkan pemikiran saya, meski tetap saja skripsi tidak segera diselesaikan karena terkendala persoalan teknis. Tapi, saat itu saya sudah menyadari bahwa Nanang memiliki bakat sebagai seorang penasehat yang baik. Meski begitu, jika sekarang ia telah menjadi seorang trainer yang sedang “naik daun” tetap itu sebuah keajaiban. Hingga kini, saking terkejutnya saya masih sulit mempercayainya. Apakah benar ia seorang Nanang yang pernah saya kenal atau bukan? Hati saya bertanya-tanya, “Kok bisa!” Kenapa? Pertama, di mata saya Nanang adalah sosok yang pendiam. Saat terjadi diskusi dan dialog pun, ia tidak banyak berbicara. Jadi, saya tidak mengetahui kualitas intelektualnya saat itu. Apalagi, kualitas bicaranya: apakah ia seorang orator atau bukan? Namun, ia memiliki kekuatan emosional di atas rata-rata. Ia sangat tenang dalam menghadapi segala persoalan. Inilah salah satu kelebihannya. Kedua, selama mahasiswa, Nanang lebih banyak menghabiskan seluruh aktivitas hidupnya di masjid, yang bagi saya dan teman-teman adalah sebuah pekerjaan mulia tapi tidak keren. Apalagi, setelah kami tahu bahwa Nanang adalah seorang penjaga sepatu dan pembersih toilet. Tapi, semua anggapan saya dan teman-teman khususnya ternyata salah. Justru berangkat dari masjid itulah, pemikiran dan kepribadian Nanang dibentuk. Sungguh luar biasa! Pertanyaannya: Mengapa sebuah masjid bisa membentuk watak dan pemikiran Nanang? Karena setelah itu, ia diangkat sebagai pengurus ICNIS (Islamic Network for Islamic Scientist), sebuah kelompok kajian yang dikomandoi oleh Prof. Dr. Quraish Shihab dan Dr. Nazaruddin Umar, yang masih satu atap dengan Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurut Nanang, ketika di ICNIS itulah ia mulai bersinggungan dengan banyak pemikir dan trainer handal seperti Prof. Komaruddin Hidayat, Dra. Psi Pamugari Widyastuti, Rani Anggraeni Dewi, Anand Krishna dan tentunya Prof. Quraish Shihab dan Dr. Nazaruddin Umar sendiri. “Meski saya kadang mendengarkan mereka bicara dari dapur sambil mencuci piring, mungkin karena ikhlas, akhirnya ilmu itu masuk ke saya,” ujar Nanang kepada Hidayah saat ditemui di tempat tinggalnya di Ciledug. Tidak hanya pola pikir Nanang yang mulai terbentuk, tapi juga perlahan-lahan mentalnya semakin terasah, terutama mental marketing dan trainernya. Sebagai pengurus ICNIS, ia menelpon orang untuk hadir pada acara yang diadakan oleh ICNIS. Ia pun dituntut untuk melayani orang dengan senyaman mungkin. Inilah salah satu seni marketingnya. Lalu ia juga yang menyiapkan sound system, lighting dan panggung saat ICNIS mengadakan pelatihan. Makin lama dunia training sudah bukan hal yang asing lagi di matanya. Meski tidak terlibat langsung sebagai trainer, tapi saat di ICNIS itu ia diajarkan bagaimana menjadi seorang trainer itu. Dari sinilah, istilah Nanang, OMA (One Minute Awareness)-nya –titik balik kehidupannya- ditemukan. Di tempat itu seolah ia menemukan jati dirinya bahwa suatu saat nanti ia pasti akan seperti mereka. Singkat kata, pergulatan Nanang dengan ICNIS tersebut telah membawanya menjadi sosok yang powerful: percaya diri, punya visi dan misi hidup. Keluar dari UIN Syarif Hidayatullah, Nanang menjadi dosen psikologi di Universitas Paramadina. Bahkan, adanya jurusan Psikologi di universitas ini salah satunya berkat Nanang juga. Pada saat bersamaan, ia pun mulai mengasah jiwa kepemimpinannya dengan terlibat dalam berbagai bisnis multi level marketing (MLM), salah satunya Gold Q.i. Di MLM inilah Nanang sempat memiliki ribuan downline dan menghasilkan uang yang tidak sedikit. Menurut Nanang, jiwa kepemimpinannya itu sebenarnya tidak saja didapatkan dari masjid tapi juga dari pesantren Munjul, Cirebon. Ia pernah menjadi ketua santri selama dua tahun di sana. Hal inilah yang secara tidak langsung mengasah mental Nanang suatu hari nanti. Dan di masjid itulah, mental Nanang semakin tertempa. Tetapi, di tengah prestasi yang telah diraihnya itu, Nanang justru meninggalkannya. Hanya dua tahun ia di Paramadina. Karena jiwanya lebih tertarik pada training. Karena itu, ia pun mendirikan lembaga training bernama “Kontemplasi” yang pelatihannya biasa dilakukan di Hotel Lembah Hijau, Cilotoh, Puncak tahun 2004. Ternyata di sini ia sangat berhasil. Banyak orang yang tertarik pada training yang diadakan Nanang. “Saya sempat memiliki alumni hingga 2000 orang,” katanya. Bulan April 2006 Nanang menerbitkan buku berjudul The 7 Awareness, yang merupakan kumpulan artikelnya saat menjadi trainer di Kontemplasi. Niat membuat buku ini pun sebenarnya usulan para peserta training. “Mereka bertanya pada saya kenapa artikel-artikel saya tidak dibukukan saja,” ujar lelaki kelahiran Brebes, 12 Agustus 1979 ini. Setelah itu, Nanang pun memikirkan usulan mereka itu hingga kemudian buku itu lahir. Tetapi, sebelum menemukan istilah The 7 Awareness itu, Nanang harus melakukan perenungan terlebih dahulu. Bahkan, ia harus mendatangi kiayinya saat jadi santri di Munjul, Cirebon. Ia minta pertimbangan apakah bukunya layak dijual atau tidak. Dengan nada meyakinkan, pak kiayi mengatakan bahwa buku itu akan laku di pasaran. “Tetapi, saya tidak menyangka jika hasilnya sedemikian luar biasa,” ujar Nanang. Saat launching pertama di Pasar Raya Blok M, buku ini langsung terjual 2000 eksemplar. “Meski tidak diliput media, tapi saya punya akar yang cukup kuat yaitu 2000 alumni Kontemplasi saya. Mereka semua membeli buku saya,” ujar Nanang. Hingga kini, buku tersebut telah mengalami lima kali cetak ulang. Penerbitnya telah berpindah tangan dari Grasindo ke Gramedia Utama. “Sebab, mereka melihat bahwa buku ini laku bukan karena faktor marketingnya, tapi faktor penulisnya yang aktif,” ujar Nanang. Sebagai motivator, ia pun aktif mempromosikan bukunya itu. Karena itu, untuk lebih meningkatkan sisi marketingnya, Gramedia Utama mengambil alih kepenerbitannya dari Grasindo. Kini, buku itu sedang dijajaki untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh salah satu penerbit di Singapura. Tidak saja laris manis di pasaran, buku itu juga telah menjadikan Nanang sebagai ikon “Penutur Kesadaran Indonesia”. Ia diundang ke mana-mana untuk memberikan seminar, dialog atau pelatihan mengenai tujuh kesadaran yang dikupasnya dalam buku itu yaitu kesadaran berpikir (thingking awareness), kesadaran diam (silence awareness), kesadaran sukses (succes awareness), kesadaran jiwa (soul awareness), kesadaran kebijaksanaan (wisdom awareness), kesadaran visi (vision awareness ) dan kesadaran untuk pasrah atau ikhlas (awareness surrender). Salah satunya adalah dialog berkala di Smart FM dan di televisi swasta Metro TV. Nanang lalu mendirikan PT. Kesadaran Indonesia yang mewadahi event organizer bernama Rumah Kesadaran dan mematenkan The 7 Awareness sebagai brand training-nya. Kini, Nanang hampir merambah seluruh Indonesia untuk memberikan pelatihan. Bahkan, cabangnya telah berdiri di tujuh propinsi seperti Cirebon, Surabaya, Cilegon, Bandung, Balik Papan, Banjarmasin dan Makasar. Sebuah prestasi yang luar biasa bagi seorang trainer muda seperti dirinya. Setelah lahir buku yang pertama, setiap tahun Nanang selalu mengeluarkan buku seperti The Heart of Awareness (buku kedua), dan Awareness of Ramadhan (buku ketiga). Kini, Nanang sedang mempersiapkan buku keempatnya berjudul The Power of Oma, yang kemungkinan terbit bulan Maret 2009. Sebuah buku yang menjadi titik balik bagi pembaca untuk menemukan momentum yang dahsyat. Buku-buku Nanang semuanya bernafaskan Awareness. “Saya ingin membuat brand bahwa ketika orang bicara masalah kesadaran atau awareness, itu adalah saya,” ujarnya dengan tenang. Ia tidak ingin mengekor orang yang memang sudah memiliki identitasnya masing-masing seperti Ary Ginandjar dengan ESQ-nya, Abdullah Gymnastiar (AA Gym) dengan Manajemen Qalbu-nya dan sebagainya. Apakah di usianya yang masih muda, Nanang kuat menghadapi tantangan dari luar atau cibiran dari teman seprofesinya? Bagi Nanang, semua tantangan apapun insya Allah bisa dihadapinya. Yang paling berat adalah ketika ia harus kehilangan fokus. “Saat di Metro TV saya pernah ditanya, apa tantangan terberat hidup saya dan jawaban saya adalah ini,” ujar Nanang. Baginya, tantangan terberat itu adalah dari dirinya sendiri, bukan dari orang. Selama dirinya masih fokus pada apa yang dikerjakannya, maka hadangan dan tantangan terberat apapun di luar akan bisa diatasi. Selama fokus itu tetap terjaga, ke depan Nanang optimis bahwa apa yang dikerjakannya ini akan terus berkembang. Apalagi, dari berbagai tempat pelatihan yang diadakannya, banyak peserta yang merasa puas dan tergugah atas apa yang dilakukan oleh suami Dewi Umronih dan bapak dari Zaara dan Zyvaa Hayat Yusuf ini. Salah satu training sukses pernah dilakukannya adalah di Pertamina. Setelah training itu, Pertamina selalu menggandeng Nanang dalam setiap aktivitasnya seperti rencana tahun ini yang akan mengadakan Roadshow to Campus With Pertamina. Acara ini melibatkan 20 leader Pertamina untuk turut mencerahkan kampus yang ada di Jakarta. Training gratis buat mahasiswa ini didukung sepenuhnya oleh Pertamina. Kegiatan ini sendiri adalah lanjutan program Talkshow di radio Smart FM Jakarta dengan program The 7 Awareness Leadership Sharing With Pertamina. Saat tulisan ini dimuat, Tim Nanang sedang melakukan riset, kampus manakah yang akan terdaftar dalam program tersebut. Masih banyak lagi orang-orang yang telah berubah setelah ditraining Nanang. Meski begitu, Nanang tetap merendah diri. Menurutnya, keberhasilannya merubah orang dalam banyak hal bukan karena kehebatannya, tapi karena mereka mau membuka diri. Hati mereka terbuka untuk menemukan OMA-nya sendiri. Ia hanya memberi jalan, mereka yang memutuskan nasibnya sendiri: apakah mau berubah atau tidak? Yang jelas, menurut Nanang, dalam hidup ini kita perlu dituntut untuk memiliki tiga hal untuk menjadi sukses yaitu sikap, sahabat dan pembimbing. Untuk sukses, sikap kita bukan merupakan sikap gagal seperti pesimis, panik, berpikir negatif, emosional dan sebagainya. Kita juga perlu sahabat yang baik dan mendukung kita. Kita jalin relasi secara kondusif dan sebagainya. Lalu, terakhir, adalah pembimbing (mentor). Dalam hidup ini, perlu adanya seorang pembimbing semacam guru spiritual atau penasehat. “Saya sendiri punya banyak penasehat,” ujar Nanang yang telah meluluskan sekitar 4000-an lebih alumni ini. Nanang lalu mencontohkan seorang petinju kelas berat yang sangat melegenda yaitu Tyson. Kenapa ia tetap butuh seorang pembimbing? Padahal, kalau diajak bertinju pembimbingnya pasti kalah telak. Tapi, pembimbing itu justru yang menemukan di mana kelemahan dan kelebihan Tyson. Dari situlah ia semakin hebat dalam bertinju. Orang semacam Roger Federer (raja tenis lapangan), atau Tiger Woods (raja golf) sendiri memiliki pembimbing, pelatih atau penasehat, meski mereka telah menjadi orang hebat di bidangnya masing-masing. Satu hal yang perlu diwaspadai oleh Nanang adalah janganlah kita suka membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Sebab, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Banyak orang yang hampir mencapai sukses, kemudian jatuh kembali karena membandingkan orang lain lebih hebat dari dirinya. Misalnya, Anda ingin menulis buku, maka tulis saja dan tidak usah membandingkan tulisan orang lain lebih hebat daripada dirinya. Sebab, di atas langit masih ada langit. Jadi, ketika orang yang Anda bandingkan itu hebat, sebenarnya di atas dia masih banyak lagi yang jauh lebih hebat. So, jadilah diri Anda sendiri. Demikian kisah tentang trainer muda yang sangat berbakat bernama Nanang Qosim Yusuf atau dipanggil sehari-hari dengan Naqoy. Dari sini saya bisa menilai beberapa hal bahwa untuk menjadi sukses itu banyak faktornya. Selain bakat, juga melakukan pelatihan secara kontinyu. Setidaknya, Nanang telah membuktikan dirinya bahwa apa yang diperolehnya sekarang ini merupakan buah perjuangannya yang tidak pernah lelah untuk belajar dan latihan. Satu hal lagi, Nanang telah membongkar habis dalam pikirannya bahwa segalanya harus perfect, sempurna. Yang penting praktek. Maju terus tanpa mundur. Tak perlu takut dan harus percaya diri. Inilah sisi-sisi positif dalam diri Nanang yang membuatnya bisa sukses seperti sekarang. Khunaefi/foto: pribadi.
Tagged
Different Themes
Written by Naqoy

Founder And Master Trainer The 7 Awareness

0 comments