Open top menu
Wednesday, January 6, 2010



(Cover Buku OMA yang akan menjadi fenomenal karya Nanang Qosim Yusuf)


(Penampilan Abang Idris Sardi, salah satu Icon dalam buku OMA)


(Nanang Qosim Yusuf, Santi Sardi,Abang Idris Sardi,Zaara,Zyvaa dan Dewi Umronih Yusuf di Rumah Kesadaran)


(Abang Idris Sardi & Bpk.Taufik Ismail di Peluncuran Buku Jejak-Jejak Makna karya Naqoy)

( Nanang Qosim Yusuf dan Abang Idris Sardi di Hotel Pangeran Pekanbaru, 20 Des 2009)
Idris Sardi (lahir di Jakarta), 7 Juni 1938; umur 71 tahun) adalah seorang pemain biola yang sangat berbakat dan luar biasa sekali, hingga kini di Indonesia belum ada yang bisa menandinginya. Ia adalah anak dari pemain biola Orkes RRI Studio Jakarta, Bp. Sardi.

Latar Belakang
Pada usia enam tahun, pertama kali mengenal biola. Pada umur sepuluh tahun ia sudah mendapat sambutan hangat pada pemunculannya yang pertama di Yogyakarta tahun 1949. Boleh dikatakan sebagai anak ajaib untuk biola di Indonesia, karena di usia muda sekali sudah lincah bermain biola (seperti Mozart di Eropa dalam komposisi).
Tahun 1952 Sekolah Musik Indonesia (SMIND) dibuka, dengan persyaratan menerima lulusan SMP atau yang sederajat. Pada tahun 1952, Idris Sardi baru berusia 14 tahun, sehingga ia belum lulus SMP, namun karena permainannya yang luar biasa ia bisa diterima sebagai siswa SMIND tersebut. Bersama temannya yang juga pemain biola, Suyono (almarhum) namun bukan anak ajaib, yang lebih tua 2 tahun merupakan dua orang siswa SMIND yang berbakat sekali.
Pada orkes slswa SMIND pimpinan Nicolai Varvolomejeff, tahun 1952 Indris yang masih memakai celana pendek dalam seharian duduk sebagai concert master pada usia 14 tahun, duduk bersanding dengan Suyono. Rata-rata siswa SMIND berusia di atas 16 tahun.
Guru biola Idris waktu di Yogyakarta (1952-1954) adalah George Setet, sedangkan pada waktu di Jakarta (setelah 1954) adalah Henri Tordasi. Kedua guru orang Hongaria ini telah mendidik banyak pemain biola di Indonesia (orang Hongaria adalah pemain biola unggul).

Karir Musik
Ketika M. Sardi meninggal, 1953, Idris dalam usia 16 tahun harus menggantikan kedudukan sang ayah sebagai violis pertama dari Orkes RRI Studio Jakarta pimpinan Saiful Bahri.
Pada tahun 60-an, Idris beralih dari dunia musik biola serius, idolisme Heifetz, ke komersialisasi Helmut Zackarias.
Seandainya dulu Idris Sardi belajar klasik terus dengan Jascha Heifetz atau Yahudi Menuhin, maka ia akan menjadi pemain biola kelas dunia setingkat dengan Heifetz dan Mehuhin. Namun, meskipun dia belum pernah belajar biola di luar negeri, ia tetap setingkat dengan Zacharias.
Orang Indonesia yang belajar dengan Haifetz adalah Ayke (Liem) Nursalim, yang kini masih berada di AS, dan merupakan wanita pemain biola Indonesia yang terpandang (dulu di usia 4 tahun/1955 di Yogyakarta sudah main di orkes, tapi bukan anak ajaib seperti halnya Idris Sardi).

Penghargaan
Penghargaan yang diraih antara lain sebagai komponis dan ilustrator musik untuk film. Mendapat piala citra untuk Penata Musik Terbaik antara lain dalam Film-film
• Pengantin Remaja (1971)
• Perkawinan (1973)
• Cinta Pertama (1974)
• Doea Tanda Mata (1985)


OMA dan Idris Sardi
Itulah gambaran singkat tentang sosok yang akan digali dalam buku OMA, selain para tokoh lainya yang lahir dari manusia biasa namun memiliki hati yang luar biasa, pertemuan Nanang Qosim Yusuf sendiri dengan Abang Idris Sardi( Beliau yang meminta dipanggil Abang), ketika Abang Idris menghadiri dan memainkan bioalnya di peluncuran buku Nanang Qosim Yusuf ”Jejak-Jejak MaknaBasrizal Koto: Dari Titik Nol Menjadi Entrepreneur Mulia” yang diadakan di Hotel Pangeran, Pekanbaru Riau, 20 Desember 2009 lalu, setelah pertemuan malam itu, hubungan Nanang Qosim Yusuf sebagai penulis buku dan Trainer dengan Maestro Biola semakin dekat. Belum lama ini, Abang Idris Sardi mengunjugi Rumah Kesadaran, dan ingin bertemu dengan anak kembar Nanang Qosim Yusuf, Zaara dan Zyvaa untuk mulai akan dilatih menjadi pemain biola sejak kecil, kita tunggu pemain biola kembar masa depan, Zaara dan Zyvaa Hayat Yusuf.
Tagged
Different Themes
Written by Naqoy

Founder And Master Trainer The 7 Awareness

0 comments