Open top menu
Sunday, April 18, 2010

The 7 Awareness

“Barang siapa yang bersungguh-sungguh, pastilah ia akan mendapatkannya” (Hadist Nabi)

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri” (QS Ar Ra’ad, 13: 11 )

Makna hadits dan ayat Al-Qur’an inilah yang bisa jadi terbukti dalam pengalaman hidup seorang Nanang Qosim Yusuf. Kisah hidup dan kesungguhannya dalam menggapai cita-cita menjadi “bintang di langit kesadaran manusia” sangatlah menarik, dan rasanya sayang bila tak dibagikan kepada sesama umat manusia.

mantap t7aTokoh muda yang yang dikenal dengan nama populer Naqoy (singkatan dari Nanang Qosim Yusuf) kini adalah penulis beberapa buku, pendiri dan Master Trainer “The 7 Awareness” – training motivasi dan pembangkit kesadaran yang telah menginspirasi ribuan alumni trainingnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain menjadi Master Trainer, ia juga menjadi pembicara di Radio Smart FM Network setiap malam Jum’at dalam program acara dengan brand Smart Awareness. Di TV O-Channel pun dalam waktu dekat ini program talk show Naqoy akan hadir ke publik.

Naqoy telah menulis 4 buku laris manis: The 7 Awareness, terbitan Grasindo, yang edisi revisinya diterbitkan ulang oleh PT Gramedia Pustaka;The Heart of 7 Awareness, terbitan Hikmah-PT Mizan Publika, Awareness of Ramadhan, terbitan Gramedia, dan One Minute of Awareness (OMA) yang akan segera terbit. Untuk mendukung visi-misinya itu Naqoy bersama istrinya Dewi Umrotin Yusuf juga mendirikan Rumah Kesadaran beralamat maya di http://www.rumahkesadaran.com

buku ttdNaqoy, yang oleh beberapa media dan radio Smart FM dijuluki sebagai ”Penutur Kesadaran Indonesia”, dengan gaya bahasanya yang khas dan kekayaan pengalaman ruhani dan kenyataan hidupnya, kini dalam usia yang baru 30 tahun di bulan Agustus tahun ini, telah menjadi salah satu motivator kesadaran yang cukup diperhitungkan di Indonesia, selain Ary Ginanjar, Hermawan Kartajaya, Erbe Sentanu, Tung Desem Waringin, Mario Teguh, dll.

P1180628Walaupun makin banyak bermunculan trainer-trainer semacam itu, namun karena kekhasannya dan keunikan serta kontent isi training yang berbeda dari yang lainnya, maka The 7 Awareness, masih tetap mendapatkan perhatian dan pilihan dari berbagai kalangan dalam program pelatihan pengembangan SDM perusahan-perusahaan, maupun perorangan yang ingin meningkatkan nilai tambah dan keutamaan-keutamaan kualitas insaninya. Moto yang diusung oleh Naqoy dalam Training The 7 Awareness adalah: “From Good to be Great, Be Transhuman”, yang berusaha mengangkat kualitas pribadi yang baik menjadi kualitas SDM yang terbaik (GREAT), “Menjadi manusia di atas rata-rata.”

ipdn 3ipdnTercatat Naqoy telah dipercaya mentraining para pembina praja STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) di Jati Nangor – Bandung, untuk mengubah budaya perpeloncoan praja (mahasiswa) STPDN yang sebelumnya sangat militeristik dan kerap makan korban jiwa beberapa tahun yang lalu, menjadi pola pendidikan yang lebih manusiawi dan berkesadaran ilahiyah. Begitu juga Perusahaan Listrik Negara (PT PLN), sering menggunakan jasa Naqoy dan team The 7 Awareness-nya, beberapa tahun terakhir ini, untuk program in house training maupun training di luar kantor.

Sejak tahun 2006 tercatat Naqoy telah bekerja sama dengan beberapa kantor untuk melatih para karyawannya seperti: PT Amigos International, Departemen Agama Dirjen Bimas dan Haji, PT Asuransi Bumi Putera, PT Jasa Marga, BRI, PT Taspen, DPRD Cirebon, Pertamina, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), DPRD Kota Bogor, PT Telkom di Bandung, BPPT, dll. Begitu pula Naqoy kerap mengisi seminar-seminar publik tentang peningkatan kesadaran di berbagai tempat dan perusahaan serta perguruan tinggi, seperti IPB Bogor, UIN Syarif Hidayatullah, UHAMKA, Universitas Ibnu Khaldun. dll.

Salah satu Diva Pop Indonesia Krisdayanti menyatakan: “Bukunya saja membuat saya begitu tertuntun dan terarah untuk menjadi manusia di atas rata-rata, terlebih setelah saya mengikuti training The 7 Awareness, saya menjadi pribadi yang ikhlas dan bisa melihat hidup ini adalah keindahan dan peluang kita berkarya lebih untuk sesama, terima kasih guru Naqoy, yang telah membuka dan menyadarkan banyak hal tentang diri saya.”

Berawal dari Tukang Jaga Sepatu dan Kebersihan di Mesjid

Bila melihat keberhasilannya saat ini menjadi trainer papan atas di Indonesia, mungkin kita tak akan menyangka bagaimana latar belakang kehidupan pribadi sang trainer Naqoy.

Naqoy terlahir dari pasangan orang tua yang sangat miskin di pesisir pantai Losari Brebes Jawa Tengah. Ayahnya adalah seorang buruh tani, dan tukang becak. Namun ayahnya yang miskin itu tetap punya harapan yang tinggi buat anaknya. Naqoy disekolahkan di satu Madrasah Aliyah di Pesantren Munjul di Cirebon. Ketika tanpa sengaja Naqoy mengetahui ayahnya diam-diam narik becak juga untuk mencari nafkah dan biaya sekolah dia dan adik-adiknya, Naqoy terhenyak. Di keheningan malam, di kebun halaman rumahnya, Naqoy bertekad bahwa ia harus menjadi bintang di langit yang tinggi. Tak terbayang bagaimana caranya dan ke mana jalannya, Naqoy hanya bertawakal dan yakin kepada kemurahan Tuhan Allah SWT. Peristiwa inilah yang diakuinya sebagai titik balik kehidupannya (One Minute Awareness/OMA).

naqoyJPGLulus dari Madrasah Aliyah, Naqoy meminta ijin Sufyan-ayahnya dan Siti Daryunah -ibunya untuk merantau pergi kuliah ke Jakarta. Namun ayahnya tak mengijinkannya mengingat ia tak mampu secara ekonomi untuk membiayai kuliahnya. Namun Naqoy tak berputus asa, diam-diam ia berangkat juga ke Jakarta dengan alasan untuk mencari kerja. Itu yang diberitahukan kepada ayahnya dan para tetangganya, supaya ayahnya tak dipermalukannya.

Sesampainya di Jakarta ia mampir di rumah saudara sepupunya yang berprofesi sebagai tukang ojek di area wisata Dunia Fantasi Ancol Jakarta utara. Saudara sepupunya ini, Kayadi namanya, walau hanya tukang ojek, melihat potensi kecerdasan pada Naqoy. Dan dengan rasa cinta, hampir setiap hari ia menyisihkan lima ribu rupiah dari hasil ngojeknya diberikan kepada Naqoy untuk membeli makan sehari-hari Naqoy. Walau ia sendiri orang susah, namun ia selalu mendorong dan menyemangati Naqoy untuk kuliah. Setelah beberapa bulan ikut Kayadi, tahun 1997 Naqoy akhirnya berangkat ke Ciputat Jakarta Selatan. Mendaftar, dan akhirnya diterima di Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah.

Karena tak punya cukup uang untuk menyewa kamar kost, bahkan untuk biaya makan sehari-hari pun susah, akhirnya Naqoy bekerja sebagai tukang jaga sepatu dan petugas kebersihan Mesjid Fatullah di depan kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Membersihkan toilet, tempat wudhu dan lantai masjid menjadi tugasnya setiap waktu setiap hari mulai tahun 1997. Pekerjaan itu ia jalani dengan ikhlas, dan dia pun mendapatkan tempat bernaung dan menginap di mesjid sebagai imbalannya.

Belajar dari para Tokoh

mta 16Setahun kemudian ia berkenalan dan beberapa tohoh ulama serta cendikiawan yang sering ceramah dan mengisi program-program training di Mesjid Fatullah di depan UIN Syahid itu. Ia pun aktif terlibat mengorganisir sekaligus melayani keperluan para pembicara seminar, ceramah, training di mesjid itu seperti Prof.Dr. H. Nazaruddin Umar, MA. (kini Dirjen Bimas Islam Depag dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah), Prof.Dr.Quraisy Shihab, MA, Dr. Komaruddin Hidayat, Budhi Munawar Rahman, M.Hum, Ibu Rani Angraeni Dewi, M.Hum, dll.Rani AD

Dari perkenalannya dengan para tokoh tersebut yang menyaksikan kesungguhan dan ketulusan Nanang Qosim Yusuf, akhirnya para pengurus DKM dan Prof. Nazaruddin Umar mengijinkan Naqoy, menempati fasilitas kamar di lantai 2 mesjid Fathullah. Alhamdulillah Naqoy pun lalu mendapatkan orang tua asuh baru yang membiayai kuliah dan biaya hidup Naqoy selama Kuliah di UIN. Tokoh orantua asuh itu adalah Ibu Rani Angraini Dewi. M.Hum, seorang konselor keluarga dan penulis buku, aktifis pengajian Paramadina dan istri salah seorang pejabat di Bank Mandiri.

Kiprah para tokoh ulama, akademisi dan cendikiawan yang berpusat di mesjid Fatullah UIN Syarif Hidayatullah itu kemudian memotivasi dan menginspirasi Naqoy untuk bercita-cita juga menjadi pembicara dan trainer yang hebat.

yulia 2Berbekal ilmu yang didapat dari kampusnya fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah dan dari pergaulannya dengan para tokoh akademisi, ulama-cendikiawan itu, akhirnya setelah menikah dengan Dewi Umrotin Yusuf dan sempat menjadi dosen pengajar psikologi di Universitas Paramadina di tahun 2001-2002, ia mulai terlibat dalam training-training kseadaran buat para mahasiswa Universitas Paramadina dan UIN Syarif Hidayatullah. Sampai akhirnya usaha traning itu berkembang untuk para eksekutif dan karyawan di perusahaan-perusahan dan BUMN seperti saat ini.

Tokoh lain yang diakui Naqoy juga berpengaruh dalam dirinya dan ikut mewarnai perjalan karier dan kehidupan Naqoy adalah Almarhum Prof.Dr.Nurcholish Madjid, Almarhumah ibu Dra. Pamugari Widyastuti, M.Psi. Budhi Munawar Rahman, M.Hum. Prof.Dr. Komaruddin Hidayat, MA. Tokoh terakhir ini, Pak Komaruddin Hidayat, kini rektor UIN Syarif Hidayatullah, yang juga anggota dewan Redaksi Majalah Madina, misalnya mengungkapkan bahwa ia sangat memuji buku yang ditulis Naqoy The 7 Awareness, sebagai buku yang sangat bagus, yang merupakan pemandu untuk melakukan inner journey, penjalanan ke dalam diri spiritualitas berbekal intelektualitas, fisikalitas dan emosionalitas. Menurut Pak Komar: “Sesungguhnya training ini adalah awal dari perjalanan panjang di mana Anda sendiri harus membuka diri dengan tekad dan kesadaran. Training T-7-A ini sangat kontemplatif mengandalkan kekuatanLubb (hati yang paling dalam, red.) sehingga siapapun yang menemukannya akan mengalami perubahan diri.”

Dirjen Bimas Islam Dept. Agama, Prof.Dr. Nazaruddin Umar, MA pun bersaksi dalam endorsment buku The 7 Awareness: “Ketika saya membaca buku ini, hati ini tertegun kagum, terharu, bangga dan percaya bahwa ini adalah karya dari manusia yang telah menemukan kesadaran tinggi. Saya mengenal dekat dengan penulis sejak ia masih menjadi tukang bersih-bersih mesjid, sampai sekarang menjadi motivator dan penutur kesadaran Indonesia yang membersihkan hati. Apa yang disampaikan oleh penulis adalah rahasia terbesar dari kehidupan ini. Ia bukannya mengajarkan sesuatu yang belum terjadi, namun ia mengajarkan sesuatu ketika dirinya telah mengalami perubahan.”

Apa yang sebenarnya telah diketemukan, dialami dan dihayati, dari ilmu al-yaqinsampai haqq al-yakin, oleh Nanang Qosim Yusuf tersebut?

Budhy Munawar Rahman, M.Hum, dosen Universitas Paramadina dan STF Driyarkara, mengungkapkan rahasia Naqoy. Budhy yang pernah menjadiDirektur Center for Spirituality and Leadership (CSL) dan sekarang menjadiProgram Officer Islam and Civil Society The Asia Foundation (TAF), menjelaskan panjang lebar dalam pengantarnya untuk buku The 7 Awareness.

Menurutnya pemikiran dan pengalaman ruhani Naqoy serta isi training The 7 Awareness sangat diilhami oleh pentingnya intuisi dan cinta serta perjalanan ruhani dalam karya pemikiran sufistik Fariduddin Attar, dalam bukunya Mantiq al Thayr (terjemahan Indonesianya oleh Prof.Dr. Abdul Hadi WM berjudul: “Musyawarah Para Burung”). Budhy bahkan membandingkan kemiripan The 7 Awareness dengan tangga-tangga maqomat ruhani dalam Mantiqu Thayr.

Menurut Budhy kemasan moderen bernuansa Quantum Learning dalam buku dan training The 7 Awareness dari Naqoy ini adalah kebenaran perennial yang abadi. Dalam karya Attar itu, ia menyampaikan kisah perjalanan burung-burung yang mencari raja mereka Simurg, secara menarik dan alegoris—ekspresi sastra yang memerlukan ketajaman intuitif untuk menangkap maknanya. Sama dengan buku Naqoy ini, yang menyampaikan pencarian jati diri sendiri, berkisah bagaimana membaca diri sendiri sebagai”naskah”.

Musyawarah Para Burung” ini mengisahkan “burung” lambang jiwa manusia yang selalu rindu kepada asal-usul keruhaniannya dalam alam ketuhanan. Sementara Simurg, sang raja burung yang dicarinya, adalah lambang manifestasi keindahan Tuhan yang ingin mereka lihat di alam makrifat, yaitu pencerahan ruhani ketika seseorang “menatap yang Ilahi” secara intuitif. Attar menggambarkan, seperti saudara Naqoy juga gambarkan, supaya tujuan pencerahan ruhani (awareness) tersebut dapat tercapai, burung-burung tersebut mesti melalui 7 pintu ruhani, yang menggambarkan peringkat dan kedaan ruhani yang penting dalam ilmu suluk (ilmu kebatinan), atau istilah ilmiah sekarang Spiritual Intelegence, papar salah satu murid Cak Nur ini.

Attar lewat ekspresi Musyawarah Para Burung merumuskan ketujuh peringkat dan keadaan ruhani tersebut sebagai: (1) Pintu pencarian (Thalab), sejalan dengan Awareness of Thinking –Born to be King. (2) Pintu Cinta ilahi (Isyq), sejalan dengan Awareness of Silence – Jika Kau Diam maka Tuhan pun Berbicara. (3) Pintu Pemahaman atau Pengenalan Tuhan (Ma’rifah), sejalan denganAwareness of Succes—The Power of Love. (4) Pintu Kepuasan Ruhani (istighraq),sejalan dengan Awareness of Wisdom—Air Kehidupan. (6) Pintu Ketakjuban (Hayrah), sejalan denganAwareness of Vision—Tuhan pun Bervisi. (7) Pintu Kefakiran dan Kefanaan (Faqr dan Fana’), sejalan dengan Awareness of Surrender—The Power of Zero, Kekuatan dari Keikhlasan. ***

*(by ahmad y samantho, 19 Agustus 2009)

Tagged
Different Themes
Written by Naqoy

Founder And Master Trainer The 7 Awareness

0 comments