Open top menu
Monday, October 7, 2013

NAQOY, Seorang konsultan transformasi di PERTAMINA, PLN dan sebagainya, motivator dan penulis buku yang sudah memecahkan rekor MURI dg 18 ribu peserta di Senayan diusianya 29 tahun.  itulah nama panggilanya sekarang, sebenarnya nama aslinya adalah Nanang Qosim Yusuf, pria yang lahir dari desa Kalibuntu losari Brebes Jawa Tengah ini selalu percaya bahwa masa depan yang pasti dibangun oleh apa yang kita pikirkan saat ini, apa yang kita lakukan detik ini dan apa yang kita rasakan. Jika semuanya positif maka akan melahirkan yang positif. 

NAQOY adalah anak pertama dari 2 saudara laki-lakinya, selama kuliah di UIN SYARIF HIDAYATULLAH tinggal di Masjid menjadi Marbot, penjaga sepatu dan pembersih toilet, dibekali uang 65 ribu rupiah dari kampung ke Jakarta menjadi titik baliknya untuk sukses seperti yang sudah ia nikmati saat ini. 

Satu hal yang membuat dirinya bangkit dan berubah, ia menemukan #Satu menit yang mencerahkan. Satu peristiwa yang membuat dirinya hanya punya satu alasan untuk sukses yaitu TIDAK ADA ALASAN. Peristiwa itulah yang menjadikanya TITIK BALIK untuk sukses. 

TATAPAN TUKANG BECAK

Allah memiliki rencana sendiri untuk hamba-Nya, mungkin itulah kalimat yang diyakini dalam hatinya, bagaimana tidak, Suatu hari ketika NAQOY kelas 3 Aliyah, pulang bersama 3 temanya ke rumah dari Pondok Pesantren Munjul Cirebon, dalam perjalanan pulang Naqoy berpapasan dengan seorang bapak yang sedang manarik becak, mukanya ditutup pakai slayer hitam karena debu sangat banyak, Naqoy menatapnya, bahkan saling menatap, salah satu dari 3 temanya bertanya 'Nang, itu bapak kamu yah", lalu naqoy menjawab "iya, itu bapak saya". Ketika peristiwa itu, dalam hatinya tidak ada perasaan malu atau minder, seperti layaknya anak remaja pada umumnya. namun tidak bagi ayah naqoy, sejak itulah beliau tidak mau lagi narik becak. DIdepan pohon nangka becak diikat selama berhari-hari. Suatu malam selesai sholat isya Naqoy bertanya kepada bapaknya "Pa, mengapa bapak ga narik becak lagi", bapaknya menatap anak sulungnya, lalu bapaknya berkata "Nang, Bapak takut kamu malu punya bapak yang bekerja seperti ini diteman-teman kamu". Itulah pertamakali dalam hidup Naqoy berani memeluk ayahnya. Lalu Naqoy berbisik "Suatu hari nanti akan ada bintang bersinar dirumah ini pa". Kesadaranya terkoyak, hatinya tergugah, jiwanya bangun dari tudur panjangnya , sejak itulah NAQOY menemukan One Minute Awareness, satu menit yang membuatnya hanya satu alasan yaitu tidak ada alasan.


SAYA PUNYA SATU ALASAN



Sejak peristiwa itu Naqoy putuskan untuk ke Jakarta, kuliah. hanya saja uang 65.000 rupiah yang ayahnya berikan hanya membuatnya sampai di terminal s
enin, lalu ia tinggal di saudaranya yang ngojeg di ancol, untuk bisa hidup selama beberapa bulan maka naqoy menjual aqua di lampu merah gunung sahari, setelah uangnya kumpul, naqoy bertanya kepada saudaranya "Dimana kampus IAIN Ciputat yah kang?", maka saudaranya menjawab "gampang, bilang saja turun di masjid kepada supirnya". maka naqoypun mengikuti petunjuknya, naik bis senin -ciputat dan turun di masjid. "Masjid sampe, masjid", suara kondektur membangunkan naqoy, maka ia segera turun ternayata masjid putih besar itu bukan masjid uin tapi masjid AL-Azhar kebayoran.   Lalu ia naik bis dengan jurusan yang sama ke Ciputat.   Dari Ciputatlah perjalanan hidupnya memasuki kehidupan baru, mahasiswa yang  tinggal di masjid sebagai marbot, tukang bersih-bersih wc dan penjaga sepatu.
 (Bersambung)





Tagged
Different Themes
Written by Naqoy

Founder And Master Trainer The 7 Awareness

0 comments