Banten — Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten menghadirkan Coach Dr. Nanang Qosim Yusuf dalam kegiatan Studium Generale Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Kegiatan ini mengangkat One Minute Awareness sebagai tema untuk mendorong mahasiswa mengembangkan kesadaran diri dan semangat menjadi pribadi di atas rata-rata.
Bagi mahasiswa calon pendidik, perjalanan menjadi guru dimulai dari kemampuan mengenali dan membenahi diri. Pengetahuan akademik perlu tumbuh bersama kematangan emosi, kejernihan berpikir, serta tanggung jawab terhadap orang lain.
Dalam konteks tersebut, tema kesadaran memiliki relevansi yang kuat dengan dunia pendidikan. Mahasiswa diajak memaknai proses belajar sebagai kesempatan membangun karakter, menemukan arah hidup, dan mempersiapkan kontribusi bagi masyarakat.
Kesadaran sebagai Bekal Calon Guru
Guru berkesadaran memahami bahwa cara berbicara, memberi perhatian, dan menanggapi kesalahan siswa dapat memengaruhi pengalaman belajar mereka. Karena itu, calon guru perlu membiasakan diri untuk mendengarkan, mengelola emosi, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.
Kesadaran tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana: hadir tepat waktu, mempersiapkan pembelajaran, menghargai perbedaan kemampuan, serta memberikan teguran yang menjaga martabat peserta didik.
Menjadi guru berkesadaran juga berarti bersedia melakukan refleksi. Seorang pendidik perlu menanyakan kepada dirinya apakah pembelajaran yang diberikan sudah membantu siswa memahami materi, merasa dihargai, dan berani mengembangkan potensi.
One Minute Awareness dan Ruang untuk Refleksi
One Minute Awareness dapat dimaknai sebagai ajakan menyediakan jeda singkat untuk kembali memperhatikan diri: menenangkan pikiran, mengenali perasaan, dan meluruskan niat sebelum bertindak.
Bagi mahasiswa, kebiasaan refleksi ini dapat diterapkan sebelum mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, melakukan presentasi, maupun menghadapi perbedaan pendapat. Jeda tersebut menjadi kesempatan untuk memilih respons yang lebih terarah dan bertanggung jawab.
Dalam pendidikan, kebiasaan ini relevan untuk membangun kehadiran yang utuh. Calon guru belajar memberikan perhatian pada situasi kelas sekaligus menyadari keadaan dirinya sendiri.
Memaknai Pribadi di Atas Rata-Rata
Semangat menjadi mahasiswa di atas rata-rata dapat dimaknai sebagai komitmen untuk terus meningkatkan kualitas diri. Ukurannya mencakup kedisiplinan, integritas, ketekunan belajar, kepedulian, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Mahasiswa yang memiliki arah akan lebih mampu menghubungkan kegiatan akademiknya dengan tujuan yang ingin dicapai. Setiap tugas, diskusi, dan pengalaman praktik menjadi bagian dari persiapan untuk menjalankan peran sebagai pendidik.
Studium Generale ini menjadi ruang untuk menghubungkan pengembangan akademik dengan kesadaran diri. Kehadiran Coach Naqoy membawa tema refleksi dan pengembangan karakter ke dalam percakapan tentang masa depan pendidikan.
Melalui semangat tersebut, mahasiswa calon guru diharapkan terus bertumbuh menjadi pendidik yang berilmu, berempati, dan mampu memberikan keteladanan.
Pendidikan yang bermakna tumbuh dari pendidik yang sadar akan amanahnya, hadir dengan perhatian, dan terus belajar memperbaiki diri.
